Ketika Rosulullah Jatuh Cinta - Alya Hijab

Ketika Rosulullah Jatuh Cinta

1 bulan yang lalu    

 

Tahukah kamu, bahwa Rasulullah juga pernah jatuh cinta dan patah hati. Peristiwa itu terjadi ketika beliau masih muda. Cinta pertama. Namun bukan Siti Khadijah yang menjadi cinta pertama beliau, melainkan seorang gadis asal suku Quraisy bernama Fakhitah. Siapakah gadis itu?

Waktu itu paman sekaligus pelindung nabi paling gigih, Abu Thalib, memiliki tiga orang putra dan beberapa orang putri. Beberapa ada yang sebaya dan menjadi teman sepermainan nabi seperti anak tetua Abu Thalib yang bernama Thalib, Aqil yang berusia  empat belas tahun dan Ja’far yang lebih muda. Nabi senang bermain bersama mereka, ditambah mereka juga pribadi-pribadi yang cerdas.

Di antara anak-anak Abu Thalib ini ada salah satu yang menarik perhatian nabi.  Ia adalah putri keempat Abu Thalib yang bernama Fakhitah ibn Abu Thalib atau yang kerap dipanggil dengan Umm Hani’. Perasaan cinta pun tumbuh di antara mereka berdua.

Muhammad muda pun menemui pamannya itu. Beliau pun yakin bahwa perasaan cinta ini bukan main-main belaka. Beliau pun ingin meyakinkan Abu Thalib untuk segera menikahkan mereka berdua.  Lagi pula, keduanya juga telah mencapai usia nikah. Namun, Abu Thalib sudah punya rencana lain.

Jika saja waktu itu Muhammad datang lebih cepat menemui Abu Thalib, bisa jadi ceritanya akan lain. Ternyata, sebelum Muhammad datang menemui pamannya itu, Umm Hani’ telah dilamar oleh seseorang.  Pria itu juga memiliki kemampuan yang istimewa di mata Abu Tholib dan tampak mencintai putri kesayangannya tersebut.

Pria itu bernama Hubayroh, putra saudara ibu Abu Thalib yang berasal dari Bani Makhzum. Ia sendiri juga bukan sekadar pria yang kaya, tapi juga berilmu, bijak dan juga seorang penyair berbakat, sama seperti halnya Abu Thalib sendiri. Ditambah, kekuasaan bani Makhzum di Mekah demikian meningkat seiring dengan kian merosotnya kekuasan Bani Hasyim.

“Pamanku,” kata nabi,”mengapa kau tidak menikahkannya padaku?” tanyanya, lembut.

Tatkala keponakannya itu kembali mendekati, Abu Tholib hanya tersenyum dan menjawabnya,”Mereka telah menyerahkan putri mereka untuk kita nikahi.”

Perkataan itu merujuk pada ibunda nabi sendiri, Aminah ibn Wahab, yang juga merupakan gadis dari suku yang sama dengan Hubayroh.

“Maka, seseorang pria yang baik haruslah membalas kebaikan yang sama dengan apa yang telah mereka berikan pada kita,” tambah Abu Thalib.

Akhirnya, kepada pria tersebut Umm Hani’ dinikahkan.  Dan nabi menerima dengan lapang menerimanya. Beliau sadar bahwa Umm  Hani’ memang bukan ditakdirkan oleh Allah untuk bersanding bersama dirinya. Bahkan, nabi berdoa untuk kebahagiaan mereka berdua.

Kelak, beliau akan menemukan perempuan tangguh yang sangat ia cintai. Sebuah cinta sejati. Dan cinta sejati itu bernama Khadijah.

Diceritakan ulang dari buku Martin Lings, Muhammad: His Life Based on The earliest Sources  diterjemahan oleh Qomaruddin SF Muhammad (2013) dan Muhammad ibn Saad dalam  Kitab al-Tabaqat al-Kabir , vol. 8. Translated by Bewley, A. (1995), The Women of Madina .

 

Setiap orang pasti pernah merasakan jatuh cinta dan patah hati karena hidup ini persis seperti roda yang berputar. Terkadang ia berada di atas terkadang pula ia berada di bawah, terkadang seseorang hidup dalam kebahagiaan namun tidak menutup kemungkinan kesedihan juga dapat menyertai hidupnya; baik karena kehilangan barang atau orang yang dicintai melalui kematian, perceraian, putus hubugan atau bahkan penolakan cinta.

Itulah kehidupan, ia penuh dengan teka-teki, tugas kita hanyalah menjalaninya dengan sebaik mungkin tanpa mengeluh atas setiap takdir-Nya.

Diakui atau tidak, perasaan patah hati yang mendalam terjadi ketika seseorang kehilangan barang atau orang yang dia cintai, patah hati dapat membuat orang lupa makan, tidak bisa  tidur nyenyak, hilang ingatan, sampai-sampai ada yang ingin bunuh diri nauzubillah.

Cintailah sesuatu sekedarnya saja karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Dunia dan isinya hanyalah bayangan yang akan hilang pada waktunya. Pada akhirnya semua akan kembali kepada yang telah menciptakannya yaitu Allah Swt.

Namun Jangan khawatir bagi anda yang sedang patah hati karena kehilangan barang, orang tersayang atau cinta yang tertolak, karena semua itu ada jalan keluarnya, di antaranya dengan tetap berbaik sangka kepada sang pemilik hati dan pemberi kebahagiaan serta selalu meminta pengganti yang lebih baik daripadanya dalam setiap doa.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim disebutkan, bahwa dulu Rasulullah saw pernah mengajarkan sebuah doa patah hati kepada seorang sahabat dari kalangan wanita, yaitu Ummu Salamah. Ketika itu Ummu Salamah curhat kepada Rasulullah Saw tentang perasaan hatinya yang sedih karena ditinggal wafat dalam peperangan oleh suaminya tercinta bernama Abu Salamah, lalu rasulullah Saw menyuruhnya untuk berdoa. berikut doa tersebut.

…اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

ketika itu Ummu Salamah berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh rasulullah di atas, ternyata benar saja, akhirnya Allah Swt mengabulkan doanya dengan menghadirkan seorang pendamping hidup yang lebih baik daripada suami sebelumnya yaitu seorang manusia paripurna, junjungan alam semesta, pembawa risalah ilahiyah; Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Oleh karena itu, dalam hidup ini tetaplah berbaik sangka kepada Allah Swt atas segala ketetapan-Nya karena belum tentu yang kita aggap baik itu baik bagi Allah ataupun sebaliknya, sebagaiman firmannya:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216).

Dibalik setiap musibah, kesulitan dan persolaan hidup lainnya yakinlah di dalamnya terdapat hikmah yang besar dan balasan yang lebih baik dari Allah Swt untuk hamba-Nya.

 




Komentar Artikel "Ketika Rosulullah Jatuh Cinta "