Cara Mendapat Pahala dari Sosial Media - Alya Hijab

Cara Mendapat Pahala dari Sosial Media

2 bulan yang lalu      info menarik

Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang anak Adam mati, putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah atau ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau anak saleh yang berdoa untuknya," ( Sahih Muslim ).

Sedekah jariyah punya keterbatasan karena tergantung kemampuan finansial. Doa anak saleh juga terbatas, tergantung jumlah anak, umur anak, dan keturunannya. Namun, ilmu yang bermanfaat, dia tidak dibatasi waktu, tempat, dan manusia yang mengambil manfaat darinya. Selama masih ada manusia hidup, selama belum kiamat, peluang pahala dari ilmu yang bermanfaat insya Allah terus terbuka.

Dulu, untuk mendapat pahala dari manfaat ilmu butuh waktu panjang. Seorang guru mengajar pada 10 murid, misalnya. Lalu 10 murid mengajar pada 10 murid lain. Kalau kaderisasi berhasil, maka kebaikan di sisi-Nya bisa terus bertambah.

Setelah mesin cetak ditemukan, ilmu bisa diturunkan tanpa mengharuskan murid bertemu langsung dengan guru. Berbagai bidang yang dulu hanya diakses segelintir orang, kini menyebar luar biasa.

Bayangkan, betapa besar pahala Imam Bukhari atau Muslim yang menghimpun hadis untuk menjaga kemurniannya. Setelah berabad-abad, sampai saat ini pun pahala masih mengalir kepada mereka.

Keberadaan media sosial saat ini memiliki daya untuk melipatgandakan pahala, nyaris tanpa biaya dan lebih mudah. Tinggal berbagi inspirasi kebaikan lewat Facebook, Twitter , atau jejaring sosial lain. Semakin tersebar, semakin berganda pula pahala kita. Subhanallah.

Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa mengajak kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala-pahala mereka." (HR Muslim).

Sayangnya, ada sebagian orang yang memilih menjadikan media sosial sebagai sarana penabur keburukan: mencela, mengolok-olok, memfitnah, bahkan pada taraf tertentu membunuh karakter orang lain. Lucunya, tidak sedikit yang mengira mereka bakal bebas begitu saja karena menggunakan akun palsu. Dari hukum dunia mungkin, tetapi Allah tahu siapa manusia di balik akun yang berbuat keburukan dan ada konsekuensi untuk itu.

Allah bahkan memberi fasilitas bagi korban fitnah untuk mengambil pahala yang memfitnah di akhirat nanti. Jika pahala habis maka dosa yang difitnah dialihkan ke orang yang menfitnahnya.

Suatu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada sahabat-sahabatnya, "Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memliki harta benda."

Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa, pahala zakat, dan pahala hajinya, tetapi ketika hidup di dunia dia mencaci orang lain, menuduh tanpa bukti terhadap orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil), dan dia memukul orang lain. Maka sebagai tebusan atas kezalimannya, diberikanlah di antara kebaikannya kepada orang yang dizaliminya. Semuanya dia bayarkan sampai tidak ada yang tersisa lagi pahala amal salehnya. Tetapi orang yang mengadu ternyata masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang itu. Dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka."

Kata Rasulullah SAW selanjutnya, “Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti hati mereka.” (HR Muslim nomor 6522).

Dalam konteks zaman dulu, tanpa medsos, orang yang menuduh tanpa bukti bisa bangkrut di akhirat, apalagi jika mereka melakukannya di media sosial. Semakin banyak follower , maka yang terpengaruh tuduhannya pun bertambah, belum jika mereka lalu me- retwit atau share ?

"Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi sedikit pun dosa-dosa mereka." (HR Muslim). Amal yang tak seberapa semoga tak menguap sia-sia.

Hal yang sama berlaku bagi para penulis. Jika baru lansiran media, katakan tanpa dipelintir. Jika ada bantahan, cantumkan agar berimbang. Tak ada kesalahan, sekecil apa pun yang Allah SWT akan luput menghitungnya. Terlebih jika mereka yang difitnah tidak bersedia memaafkan, maka ini menjadi tabungan yang kelak akan menyedot amal sang pemfitnah. Jika dulu gosip cuma didengar satu dua orang, di era medsos kabar menyebar seperti multilevel, mencapai ribuan bahkan jutaan orang.

Pertanyaannya, seberapa besarkah tabungan amal yang dimiliki seorang hamba hingga berani menyebarkan ketidakbenaran? Bijak sebelum menuding di media sosial, pun keseharian. Berlindung kepada Allah SWT dari menjadi agen gibah dan fitnah. Pastikan kebenaran informasi dan hikmahnya untuk diri juga umat.

Sungguh, Allah Mahatahu. “Orang Mukmin menutup aib dan menasehati. Orang jahat membuka aib dan mengata-ngatai."

Kita sudah sampai pada zaman, dimana:

Bicara suara tampa suara, melihat tampa perlu tatap muka dan memanggil tampa perlu teriak, hingga dimana bicara hanya perlu ketik, melihat hanya perlu klik, dan memanggil hanya perlu “PING” saja. Sosial media telah menjadi Budaya. Dari yang hanya melihat-lihat sampai mereka yang beradu pendapat. Dari tingkah yang dibuat-buat sampai yang terang-terangan maksiat. Hingga tak sadar jemari ini berhianat, melihat apa yang seharusnya tak dilihat. Mata kita akan menjadi saksi atas apa yang kita lihat. Jari- Jemari akan menjadi saksi atas apa- apa yang kita tulis. Suatu hari jemari yang kita pakai menulis, akan bersaksi pada peciptanya. Maka dapatkan kita membantah semuanya…?? Dalam QS. 41:22 Menerangkan:

“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.”  

Maksud dari Ayat tersebut adalah: mereka itu berbuat dosa dengan terang-terangan karena mereka menyangka bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan mereka dan mereka tidak mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan kulit mereka akan menjadi saksi di akhirat kelak atas perbuatan mereka. Maka jangan sampai mereka menjadi musuh kita di hari perhitungan nanti, menjadi saksi keburukan kita di social media, saksi atas apa yang kita lihat, saksi atas apa yang kita tulis, saksi atas segala apa yang kita lakukan di sosial media. Gunakan dan jadikan apa yang ada pada diri kita sebagai ladang pahala, ladang dimana kita bisa menanam kebaikan dan menuai hasilnya di akhirat kelak.[2]

Menu Like di media sosial tanpa sadar menjadi penghantar pada dosa. Bisa jadi kita adalah wanita yang menjaga diri dengan tidak memamerkan foto di jagat maya. Bisa jadi kita adalah wanita yang taat perintah menutup aurat. Bisa jadi kita adalah wanita yang menyayangi sahabatnya,kawannya, keluarganya, karna Allah. Tapi, semua itu sirna, lenyap takkala satu sentuhan mendarat mulus pada gambar jempol gambar hati.

Satu sumbangan “Like” kita membuat mereka yang belum tutup aurat dan dengan pongahnya mengunggah foto diri menjadi lebih termotivasi. Satu iseng “Like” kita menjadi pendongkrak semangat mereka yang narsis dengan foto hijab dan tabarujnya. Satu “Like” atas nama “Like for Like” kita menjadi gerbang dosa untuk hal yang kita sendiri tidak melakukannya. Padahal sudah jelas-jelas firman Allah SWT menjelaskan dalam Kitab Suci kita(QS. Al- Maidah:2) yang berbunyi:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Dan Rasululluh SAW bersabda, “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala yang mengikutinya tampa sama sekali mengurangi pahala orang yang mengerjakannya dan barang siapa mengajak kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tampa mengurangi sama sekali dosa yang mengerjakannya.”(HR. Muslim).  

Maka jika lihat kemugkaran, maka cegahlah bukan menyentuh “ Like”, dan jangan sampa kita adalah tegolong orang yang paling lemah imannya. Dan dalam hadis lain menjelaskan “Dan barang siapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia rubah dengan dengan tangannya, jika belum mampu maka dengan lisannya, jika belum mampu juga maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” ( Hadist Shaheh, HR. Muslim, Ahmad dan Ashabusunnah) dan “Orang yang menunjukkan suatu kebaikan balasannya seperti orang yang mengerjakannya” ( HR. Tirmizi, Hadis Shaheh)

 

 

Sumber

https://www.google.com/search?q=pahala+lewat+media+sosial&safe=strict&rlz=1C1AVFC_enID854ID854&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi21fjyzODjAhX863MBHYn1BlgQ_AUIESgB&biw=1366&bih=618#imgrc=voqRe4vMhWggVM:

https://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/15/10/02/nvlkol319-ladang-pahala-dan-dosa-di-media-sosial

https://www.kompasiana.com/uyunalhidayah/57398cfcca23bd7c077282c8/jadikan-media-sosial-ladang-pahalamu-karna-likemu-berbisaberacun

 




Komentar Artikel "Cara Mendapat Pahala dari Sosial Media"