Single Kok Bangga..!!! Coba baca yang satu ini :) - Alya Hijab

Single Kok Bangga..!!! Coba baca yang satu ini :)

1 tahun yang lalu      info menarik

Sahabat Alya,

Islam diturunkan Allah SWT untuk menata hubungan kedua insan agar menghasilkan sesuatu yang positif bagi umat manusia dan tidak membiarkannya berjalan semaunya sehingga menjadi penyebab bencana.

Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah akad yang diberkahi. Di mana seorang lelaki menjadi halal bagi seorang wanita begitu pula sebaliknya. Mereka memulai perjalanan hidup berkeluarga yang panjang, dengan saling cinta, tolong menolong dan toleransi.

seperti yang telah tertulis dalam al-quran :

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kita cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT ingin menggambarkan hubungan yang sah itu dengan suasana yang penuh menyejukkan, mesra, akrab, kepedulian yang tinggi, saling percaya, pengertian dan penuh kasih sayang.

Pernikahan menjadi suatu prosesi yang sakral bagi semua orang. Setiap orang yang saling mencintai  berharap hubungan mereka dipersatukan ke jenjang pernikahan. Ada banyak alasan pasangan untuk menikah salah satunya adalah untuk melaksanakan sunnah Nabi.

Namun, tidak semua orang melakukan pernikahan karena alasan tersebut. Ada di antara mereka yang menikah dengan tujuan untuk mendapatkan harta atau kenikmatan dari pasangannya saja. Bahkan di antara mereka ada yang meninggalkan pasangannya setelah mendapatkan apa yang diinginkan.

Padahal sebenarnya di dalam agama Islam, pernikahan bukan hanya dijadikan ajang pemersatu dua hati yang saling mencintai saja. Namun lebih dari pada itu, ada beberapa tujuan dari melakukan pernikahan di dalam Islam. Apa sajakah itu? Berikut ini ulasan selengkapnya.


  • Mau tau 10 Manfaat Hijab Bagi Kesehatan Wanita ??? Baca di sini >> KLIK
  • Wajib Coba !!! inilah tips Awet Muda Alami Ala Islam. >> KLIK
  • Diet Sehat Ala Islam ??? Puasa Sunah Senin Kamis Jawabannya… >> BACA
  • Cari Tau Yukk.... !!! 20 Fakta Unik & Menarik Tentang Hijab >> BACA
  • Potong Kuku Dan Rambut saat Haid dan Nifas ??? Ini Hukumnya >> BACA

 Tujuan Menikah

1. Menjaga Diri Dari Perbuatan Maksiat

Tujuan pertama dari pernikahan menurut Islam adalah untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat. Seperti yang diketahui, pada saat ini banyak anak muda yang menjalin hubungan yang tidak diperbolehkan di dalam Islam yakni dengan berpacaran. Hubungan yang demikian ini menjadi ladang dosa bagi mereka yang menjalaninya karena dapat menimbulkan nafsu antara satu dengan lainnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai para pemuda, barang siapa dari kita telah mampu memikul tanggul jawab keluarga, hendaknya segera menikah, karena dengan pernikahan engkau lebih mampu untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluanmu. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengendalikan dorongan seksualnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Nafsu syahwat merupakan fitrah yang ada dalam diri manusia. Untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat, maka mereka yang telah mampu dianjurkan untuk menikah. Namun jika belum mampu, maka hendaknya berpuasa untuk mengendalikan diri.

2. Mengamalkan Ajaran Rasulullah SAW

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa pernikahan itu merupakan sunnah Nabi, jadi mengamalkan ajaran Rasulullah SAW menjadi salah satu tujuan dari pernikahan di dalam Islam. Sebagai umat Muslim, Rasulullah SAW dijadikan sebagai teladan dalam menjalani kehidupan. Dengan mengikuti apa yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW berarti kita sudah menjalankan sunnahnya. Salah satu sunnah Rasul  itu adalah menikah.

3. Memperbanyak Jumlah Umat Islam

Tujuan selanjutnya dari pernikahan adalah untuk menambah jumlah umat Islam. Maksudnya di sini adalah buah dari pernikahan tersebut akan melahirkan anak-anak kaum muslim ke dunia dan mendidiknya menjadi umat yang berguna bagi agama dan masyarakat. Rasulullah SAW bersabda:

“Nikahilah wanita-wanita yang bersifat penyayang dan subur (banyak anak), karena aku akan berbangga-bangga dengan (jumlah) kalian dihadapan umat-umat lainnya kelak pada hari kiamat.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, At Thabrany dan dishahihkan oleh Al Albany)

4. Mendapat Kenyamanan

Tidak hanya faktor kepentingan agama saja, ternyata menikah juga bertujuan untuk diri kita sendiri. Tujuan tersebut untuk mendapatkan kenyamanan dan kedamaian dalam kehidupan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kita merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

5. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah

Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk mengabdi dan beribadah hanya kepada Allah SWT dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadahan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain, bahkan berhubungan suami isteri pun termasuk ibadah (sedekah).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ.

“… Seseorang di antara kalian bersetubuh dengan isterinya adalah sedekah!” (Mendengar sabda Rasulullah, para Shahabat keheranan) lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kita melampiaskan syahwatnya terhadap isterinya akan mendapat pahala?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika ia (seorang suami) bersetubuh dengan selain isterinya, bukankah ia berdosa? Begitu pula jika ia bersetubuh dengan isterinya (di tempat yang halal), dia akan memperoleh pahala.” [8]

6. Membina Rumah Tangga Yang Islami & Menerapkan Syari’at

tujuan terakhir pernikahan dalam agama Islam adalah untuk membia rumah tangga yang islami dan menerapkan syari’at. Memang segala sesuatunya dimulai dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Maka masyarakat yang damai dan menjalankan ajaran Allah juga berasal dari tiap-tiap keluarga yang damai dan menjalankan perintah Allah. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakaranya adalah manusia dan batu, penjaganya mailakat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim 6)


  •  Inilah Keistimewaan Hari Jumat Didalam Dunia Islam >>KLIK
  • Subhanallah....!!! Istimewanya Menjadi Seorang Wanita >>KLIK
  • Keutamaan Menjaga Lisan dan Manfaatnya >>KLIK
  • SUKA BERCANDA YA ? Bercandalah menurut hukum islam >>BACA
  • Ingin Dilancarkan Rizkinya...??? Inilah Amalan-amalan Yang Dapat Memperlancar Rizki >>BACA

 Hukum Pernikahan

Ulama fiqih sepakat bahwa pernikahan itu penting dan memiliki banyak manfaat positif bagi manusia. Pendapat ulama fiqih tentang hukum pernikahan secara umum terbagi menjadi tiga yaitu wajib, mubah dan sunnah .

Wajib: Menikah itu wajib menurut Abu Daud Adz-Dzahiri dan  Ibnu Hazm. Kedua ulama ini mendasarkan pendapatnya pada keumuman perintah dalam QS An Nisa’ 4:3[3] Di mana bentuk perintah (fi’il amar) dalam kata wa ankihu menunjukkan perintah wajib. Karena itu maka menikah itu hukumnya wajib. Selain itu, Adz-Dzahiri berargumen bahwa pernikahan itu merupakan jalan untuk menjaga diri dari menjauhi perbuatan haram. Maka suatu perkara yang menjadi syarat untuk melaksanakan perkara wajib maka hukumnya menjadi wajib juga.[4] Oleh karena itu maka hukumnya orang yang tidak menikah adalah berdosa sebab meninggalkan kewajiban.

Mubah: Menikah hukumnya mubah menurut madzhab Syafi’i. Boleh dilakukan dan boleh dtinggalkan. Imam Syafi’I berargumen bahwa hukum nikah itu mubah karena ia bertujuan untuk mendapatkan kenikmatan dan pemenuhan hasrat syahwat sebagaimana makan dan minum.[5]

Sunnah: Kawin hukumnya sunnah menurut pendapat jumhur (kebanyakan) ulama termasuk madzhab Hanafi, madzhab Maliki dan madzhab Hanbali. Dan bahwa perintah yang terdapat dalam QS An Nisa’ 4:3 memiliki konsekuensi hukum sunnah bukan wajib. Banyak argumen yang dikemukan sejumlah ulama mengapa nikah itu hanya sunnah saja bukan wajib. Antara lain sebagai berikut:

Adanya sejumlah Sahabat laki-laki dan perempuan pada zaman Nabi yang tidak menikah dan Nabi membiarkan hal itu terjadi.

Seorang wali mujbir tidak boleh memaksa putrinya yang sudah janda. Kalau menikah itu wajib niscaya wali mujbir melakukan pemaksaan pada putrinya baik yang janda atau perawan.[6]

Perbedaan ulama tentang hukum pernikahan tersebut apabila dalam keadaan yang normal di mana seseorang tidak takut terjerumus untuk melakukan perbuatan haram. Adapun apabila dikuatirkan melakukan perilaku yang melanggar syariat jika tidak menikah, maka hukum menikah itu menjadi wajib karena menjaga diri dari perilaku haram itu hukumnya wajib.

Al-Qurtubi menyatakan dalam Tafsir Al-Qurtubi dalam menafsiri ayat QS 4:3 di atas demikian:

قال علماؤنا: يختلف الحكم في ذلك باختلاف حال المؤمن من خوف العنت الزنى، ومن عدم صبره، ومن قوته على الصبر، وزوال خشية العنت عنه.

وإذا خاف الهلاك في الدين أو الدنيا فالنكاح حتم ومن تاقت نفسه إلى النكاح فإن وجد الطَّوْل فالمستحب له أن يتزوج. وإن لم يجد الطول فعليه بالاستعفاف ما أمكن ولو بالصوم لأن الصوم له وِجاءٌ كما جاء في الخبر الصحيح.

Ulama berkata: hukum menikah berbeda sesuai keadaan seseorang seperti takut zina, tidak sabar, tahan menahan nafsu dan tidak takut terjerumus pada perzinahan. Apabila takut terjadi kerusakan dalam agama atau dunia maka menikah itu wajib. Barang siapa mampu menikah secara fisik dan finansial, maka sunnah baginya menikah. Bagi yang tidak memiliki biaya maka dia wajib menjaga diri semampu mungkin walaupun dengan cara berpuasa. Karena berpuasa itu dapat mengurangi syahwat seperti tersebut dalam hadits sahih.[7]

Sementara itu, Al Qurtubi berpendapat bahwa hukum pernikahan secara khusus bersifat kondisional. Ia dapat wajib, sunnah, haram, mubah, makruh, tergantung pada situasi dan kondisi dengan rincian sebagai berikut:

Nikah itu wajib dalam kondisi apabila tidak menikah dikuatirkan akan terjerumus pada perzinahan.

Nikah itu haram bagi laki-laki apabila ia (a) tidak mampu menafkahi istri secara lahir dan batin atau (b)  berada di daerah perang.

Nikah itu makruh bagi laki-laki yang miskin dan tidak punya syahwat atau pernikahan akan menyebabkannya meninggalkan perbuatan taat.

Nikah itu mubah (boleh) bagi laki-laki yang memiliki syahwat tapi tidak punya modal untuk menikah atau punya modal tapi tidak punya syahwat.  Menurut madzhab Syafi’i nikah itu mubah apabila tidak ada dorongan atau halangan  untuk menikah seperti laki-laki yang mandul, tidak tertarik pada perempuan.

Nikah itu sunnah apabila dengan menikah itu dapat menyalurkan syahwat, menjaga diri, memelihara faraj (tidak berzina), dan lain-lain. Inilah hukum dari pernikahan karena empat hukum yang lain di atas memerlukan sebab yang mengalihkannya dari sunnah menjadi wajib, haram, makruh atau mubah.[8].[]


  •  Sulit Lepas dari Jeratan Dendam..??? Coba Baca yang Satu Ini. >>KLIK
  • Inilah Sebabnya Mengapa Menuntut Ilmu Itu Penting !!! >>KLIK
  • Masih Suka Bingung saat Haid ??? Mau Ibadah Takut Salah. Supaya Lebih Jelas, YUK BACA...!!! >>KLIK
  • Biar Nggak Kaget, Cari Tahu Yuk…!!! Apa Saja Persiapan yang Harus Dilakukan Menjelang Bulan Ramadhan >>KLIK
  • Jangan Ngaku Taqwa, Sebelum Melaksanakan Kewajiban Yang Satu Ini...!!!>>BACA

Alasan Seseorang Belum Ingin Menikah- Merasa belum mapanKemapanan sering menjadi alasan seseorang untuk menunda pernikahan. Tapi definisi kemapanan sendiri sejauh apa? Apakah mapan harus berarti sudah kaya raya dengan tabungan yang cukup membiayai anak sampai ke perguruan tinggi?Sebuah pernikahan, selain membutuhkan kesiapan mental juga perlu kesiapan materi, karena bagaimanapun juga cinta saja tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga. Kalau menunggu mapan, mau sampai kapan? Butuh waktu yang lama untuk sebuah kesuksesan. Bila kemapanan didefinisikan sebagai harus punya rumah sendiri, punya kendaraan sendiri, punya tabungan puluhan juta, bisa liburan minimal sebulan sekali, pertanyaanya adalah, kapan kita bisa mencapainya? Kesuksesan tidak datang dalam sekejap mata. Terkadang butuh bertahun-tahun untuk mencapainya. Sementara kesempatan untuk menemukan pasangan hidup selamanya belum tentu datang dua kali.Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan. Mapan sekarang belum tentu terjamin selamanya. Perasaan orang bukan didasari oleh materi kemudahan yang ditawarkan, tapi kesediaan untuk berjuang menghidupi apa yang telah disepakati bersama. Terbiasa berjuang bersama dari bawah akan membuat ikatan lebih kuat. tak akan goyah bila badai sewaktu-waktu datang menerpa. Jatuh bangun yang dialami bersama justru akan menambah kedalaman rasa. Beratnya perjuangan akan membuat kita semakin enggan untuk saling kehilangan pasangan kita. dan bukankan menikah itu ibadah? tentunya Allah tidak akan mempersulit hamba-Nya dalam urusan ibadah.

- Trauma akibat kegagalan pernikahan orang tuanyaTidak sedikit orang yang lahir dari keluarga “broken home” akibat kegagalan pernikahan orang tuanya menjadi pribadi yang takut bahkan tidak percaya akan komitmen pernikahan. Perceraian kedua orang tuanya memunculkan rasa trauma dalam dirinya untuk membina rumah tangga. Perasaan trauma itu tanpa sadar merasuki dirinya sehingga terbentuklah sebuah persepsi negatif dalam dirinya akan arti sebuah pernikahan. Trauma tersebut tidak seketika muncul ketika pernikahan orang tuanya berakhir, namun biasanya sudah mulai tumbuh sejak masa-masa percekcokan orang tuanya.

- Masih ingin fokus pada karirnya

Ada beberapa orang yang merasa karir adalah pencapaian terbesar dan kesuksesan sejati bagi dirinya. Orang seperti ini biasanya menganggap harga dirinya masih dipertaruhkan bila belum memiliki karir yang bagus. Untuk itu, ia akan berusaha dan fokus pada segala hal yang dapat meningkatkan prestasinya dalam bekerja. Selain itu, anggapan lain bahwa orang yang sudah mapan dan sukses secara karir pasti lebih disukai akan membuat kita merasa harus fokus terlebih dahulu mengejar karir sebelum memutuskan untuk menikah. Padahal sebenarnya dengan menikah kita akan dipermudah jalannya ole Allah dalam mencari rizki dan dengan dukungan dari pasangan kita tentunya kita akan lebih bersemangat dalam bekerja dan kemudian mencapai karir yang kita inginkan.

- Belum siap menjadi orang tua

banyak sekali orang yang takut menikah karena sebentar lagi dia akan mempunyai anak dan menjadi seorang ibu atau ayah. ketakutan mereka disebabkan karna mereka berpendapat bahwa menjadi orang tua akan membuat mereka tidak bebas lagi, dipenuhi tanggung jawab, harus bisa menjadi panutan dan lain sebagainya. namun jika kita lihat lebih dalam lagi, menjadi orang tua adalah suatu kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. jika kita mendidik anak-anak kita dengan baik dan dengan nilai-nilai agama, mereka akan jadi ladang pahala bagi kita nantinya.

- Tidak lagi menikmati kebebasan

Bebas melakukan apa pun yang ia mau, bebas berkumpul dengan teman-teman, bebas pergi kemana pun ia mau. Sebagian dari kita takut, saat menikah berarti kebebasan yang ia miliki akan hilang. Hidupnya tak lagi untuk bersenang-senang, tetapi untuk keluarga. Inilah yang membuat enggan cepat-cepat menuju ke jenjang pernikahan. Tentu jika kita lihat dari sisi lain, dengan menikah kita akan lebih terjaga dari banyak bentuk kemaksiatan yang tidak terlihat jelas. Seperti, bersenang-senang dengan teman secara berlebihan, bebas begandengan tangan dengan yang bukan muhrimnya, bebas pergi kemana saja tanpa memikirkan orang lain yang menunggunya dirumah. justru dengan menikah, kita akan memiliki teman hidup yang halal yang bisa kita gandeng kemana saja selama itu baik.

Sebagai kaum muslim, kita selayaknya mengetahui apa tujuan dari sebuah perintah atau anjuran Allah dan Rasulnya. Setelah mengetahuinya, ada baiknya untuk menjalankan anjuran untuk segera menikah agar mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Sahabat Alya,

Pernikahan juga merupakan suatu ikatan yang kuat dengan perjanjian yang teguh yang ditetapkan di atas landasan niat untuk bergaul antara suami istri dengan abadi. Supaya dapat memetik buah kejiwaan yang telah digariskan oleh Allah dalam Al-Quran yaitu ketenteraman, kecintaan dan kebahagiaan.

Semoga kita selalu menjadi hamba yang disayangi Allah, Aminn... 

 

Terima kasih sudah membaca artikel “ Single Kok Bangga..!!! Coba baca yang satu ini :) ” Silahkan share agar bermanfaat bagi orang lain :)




Komentar Artikel "Single Kok Bangga..!!! Coba baca yang satu ini :)"