Potong Kuku Dan Rambut saat Haid dan Nifas ??? Ini Hukumnya - Alya Hijab

Potong Kuku Dan Rambut saat Haid dan Nifas ??? Ini Hukumnya

1 tahun yang lalu      info menarik

Hukum Potong Kuku Dan Rambut saat Haid dan Nifas

pertanyaan :

Bolehkah seorang perempuan memotong kuku atau rambut pada saat haid atau nifas ? Haruskah rambut dan kuku yang dipotong saat haid, nifas atau janabah dikumpulkan untuk dicuci bersamaan saat mandi?

Jawaban :

Memotong kuku demikian pula membersihkan rambut di sekitar kemaluan atau mencabut bulu ketiak termasuk fitrah, disyariatkan dalam islam sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih dari Rasulullah saw.

Syariat ini berlaku umum bagi laki-laki atau perempuan dalam segala keadaan baik suci atau tidak. Kecuali jika seorang dalam keadaan ihram (haji atau umrah) saat itu dilarang baik lelaki atau perempuan, suci atau berhadats dengan sengaja menggunting kuku atau mencukur rambut.

Walhasil, seorang perempuan dalam keadaan haid, nifas atau hadats besar tidak ada halangan untuk melaksanakan sunah fitrah ini, tidak ada dalil yang melarang. Silahkan menggunting kuku atau membersihkan rambut walaupun masih dalam keadaan haid, nifas atau hadats besar.

Tidak terdapat riwayat yang melarang perempuan haid untuk memotong kuku maupun rambut. Demikian pula, tidak terdapat riwayat yang memerintahkan agar rambut perempuan haid yang rontok untuk di cuci bersamaan dengan mandi besar.


  • Mau tau 10 Manfaat Hijab Bagi Kesehatan Wanita ??? Baca di sini >>KLIK
  • Wajib Coba !!! inilah tips Awet Muda Alami Ala Islam. >>KLIK
  • Diet Sehat Ala Islam ??? Puasa Sunah Senin Kamis Jawabannya… >>BACA
  • Cari Tau Yukk.... !!! 20 Fakta Unik & Menarik Tentang Hijab >>BACA
  • Inilah Keistimewaan Hari Jumat Didalam Dunia Islam >>KLIK

 Bahkan sebaliknya, Rasulullah saw membolehkan perempuan haid menyisir rambutnya, padahal bisa dipastikan adanya rambut yang rontok saat perempuan menyisir. Disebutkan dalam hadis dari A’isyah, bahwa saat Aisyah mengikuti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesampainya di Mekkah beliau mengalami haid. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

 

دعي عمرتك وانقضي رأسك وامتشطي

 

“Tinggalkan umrahmu (yakni niatkanlah haji qiran), lepas ikatan rambutmu dan ber-sisir-lah…” (HR. Bukhari 317 & Muslim 1211)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan A’isyah yang sedang haid untuk menyisir rambutnya. Padahal beliau baru saja datang dari perjalanan. Sehingga kita bisa menyimpulkan dengan yakin, pasti akan ada rambut yang rontok. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh A’isyah untuk menyimpan rambutnya yang rontok untuk dimandikan setelah suci haid.

Hadis ini menunjukkan bahwa rambut rontok atau potong kuku saat haid hukumnya sama dengan kondisi suci. Artinya, tidak ada kewajiban untuk memandikannya bersamaan dengan mandi haid. Jika hal ini disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan jelaskan kepada A’isyah agar menyimpan rambutnya dan memandikannya bersamaan dengan mandi haidnya, karena tidak boleh bagi Rasulullah saw mengakhirkan penjelasan di saat dibutuhkan sebagaimana kaidah ini disebutkan oleh para ulama: “Ta`khirul Bayan ‘Inda waqtil Hajah Laa Yajuz/Mumtani’.

Dalam Fatwa Al-Kubra, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terdapat pertanyaan, “saat seorang tengah dalam keadaan junub, kemudian memotong kukunya, atau kumisnya, atau menyisir rambutnya. Apakah dia salah dalam hal ini? Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa orang yang memotong rambutnya atau kukunya saat junub maka semua bagian tubuhnya ini akan kembali pada hari kiamat dan menuntut pemiliknya untuk memandikannya, apakah ini benar?”

Syaikhul Islam memberi jawaban

 

قد ثبت عن النبي صلى الله عليه و سلم من حديث حذيفة ومن حديث أبي هريرة رضي الله عنهما : أنه لما ذكر له الجنب فقال : إن المؤمن لا ينجس. وفي صحيح الحاكم : حيا ولا ميتا وما أعلم على كراهية إزالة شعر الجنب وظفره دليلا شرعيا بل قد قال النبي للذي أسلم : ألق عنك شعر الكفر واختتن. فأمر الذي أسلم أن يغتسل ولم يأمره بتأخير الاختتان وإزالة الشعر عن الاغتسال فإطلاق كلامه يقتضي جواز الأمرين

 

“Terdapat hadis shahih dari Hudzifah dan Abu Hurairah radliallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang junub, kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.’ Dalam shahih Al-Hakim, ada tambahan, ‘Baik saat hidup maupun saat mati.’

Sementara saya belum pernah mengetahui adanya dalil syariat yang memakruhkan potong rambut dan kuku, saat junub. Bahkan sebaliknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang masuk islam, “Hilangkan darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.”

Beliau juga memerintahkan orang yang masuk islam untuk mandi. Dan beliau tidak memerintahkan agar potong rambut dan khitannya dilakukan setelah mandi. Tidak adanya perintah, menunjukkan bolehnya potong kuku dan berkhitan sebelum mandi…’” (Fatawa Al-Kubra, 1:275) Allahu a’lam.


  • Keutamaan Menjaga Lisan dan Manfaatnya >>KLIK
  • SUKA BERCANDA YA ? Bercandalah menurut hukum islam >>BACA
  • Ingin Dilancarkan Rizkinya...??? Inilah Amalan-amalan Yang Dapat Memperlancar Rizki >>BACA
  • Sulit Lepas dari Jeratan Dendam..??? Coba Baca yang Satu Ini. >>KLIK
  • Subhanallah....!!! Istimewanya Menjadi Seorang Wanita >>KLIK

 Diskusi Pendapat Yang Melarang Dalam Madzhab Syafi’i,

Pendapat yang tidak memperbolehkan memotong kuku dan rambut pada saat haid bagi perempuan atau juga umumnya bagi laki-laki dalam keadaan junub adalah salah satu pendapat dalam madzhab Syafi’I (bukan kesepakatan dalam madzhab Syafi’i) sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anat at-Tholibin, dan sumber lain dari kitab-kitab syafi’iyyah

Pendapat ini bersumber dari pernyataan Imam al-Ghozali dalam Ihya’ ’ulum al-Din sebagaimana dikutip dalam Mughni al-Muhtaj (1/72 al-Maktabah as-Syamilah) dan dalam Syarh Al-Iqna li Matni Abi Syuja’ (1/60),

 

قال فى الإحياء-أى إحياء علوم الدين للأمام الغزالى- لا ينبغى أن يحلق أو يقلم أو يستحد-يحلق عانته -أو يخرج دما ، أو يُبين -يقطع -من نفسه جزًا وهو جنب ، إذْ ترد سائر أجزائه فى الآخرة فيعود جنبا ، ويقال : إن كَل شعرة تطالبه بجنابتها 

 

Berkata Al-Ghazali dalam al-Ihya’: Tidak semestinya memotong (rambut) atau menggunting kuku atau memotong ari-ari, atau mengeluarkan darah atau memotong sesuatu bagian tubuh dalam keadaan junub, mengingat seluruh anggota tubuh akan dikembalikan kepada tubuh seseorang. Sehingga (jika hal itu dilakukan) maka bagian yang terpotong tersebut kembali dalam keadaan junub. Dikatakan: setiap rambut dimintai pertanggungjawaban karena janabahnya.

Dari beberapa kitab dalam madzbab Syafi’i sendiri, diketahui bahwa para ulama madzhab Syafi’I tidak semuanya sepakat dengan pendapat Imam Ghozali tersebut, sebagaimana diisyaratkan dalam kitab I’anat Tholibin (1/96 Maktabah syamilah) dengan pernyataan:

 

وفي عود نحو الدم نظر، وكذا في غيره، لان العائد هو الاجزاء التي مات عليها.

 

“Tentang akan kembalinya (anggota tubuh) semisal darah, pendapat ini perlu diselidiki lagi. Demikian pula (bagian tubuh) yang lainnya. Karena (bagian tubuh) yang kembali (dibangkitkan bersama dengan pemilik bagian tubuh itu) adalah bagian-bagian tubuh yang pemilik tubuh itu mati bersamanya (ada pada saat kematian orang tersebut)”

Dalam kitab Syafi’i yang lain yaitu Niyatul Muhtaj Syarh al-Minhaj disebutkan:

 

( قَوْلُهُ : تُرَدُّ إلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ ) هَذَا مَبْنِيٌّ عَلَى أَنَّ الرَّدَّ لَيْسَ خَاصًّا بِالْأَجْزَاءِ الْأَصْلِيَّةِ وَفِيهِ خِلَافٌ .

وَعِبَارَةُ الشَّيْخِ سَعْدِ الدِّينِ فِي الْعَقَائِدِ نَصُّهَا : رَدًّا عَلَى الْفَلَاسِفَةِ : وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمَعَادَ إنَّمَا هُوَ الْأَجْزَاءُ الْأَصْلِيَّةُ الْبَاقِيَةُ مِنْ أَوَّلِ الْعُمُرِ إلَى آخِرِهِ ( قَوْلُهُ : فَيَعُودُ جُنُبًا ) ظَاهِرُ هَذَا الصَّنِيعِ أَنَّ الْأَجْزَاءَ الْمُنْفَصِلَةَ قَبْلَ الِاغْتِسَالِ لَا تَرْتَفِعُ جَنَابَتُهَا بِغَسْلِهَا سم عَلَى حَجّ ( قَوْلُهُ : وَيُقَالُ إنَّ كُلَّ شَعْرَةٍ ..إلَخْ ) فَائِدَتُهُ التَّوْبِيخُ وَاللَّوْمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِفَاعِلِ ذَلِكَ ،

 

Lebih jelas lagi dalam kitab Hasyiah al-Bujairimi ’ala al-Khotib (2/335 al-Maktabah as-Syamilah), mengkritisi pendapat Imam al-Ghozali tersebut yang intinya menyatakan bahwa pendapat Imam al-Ghozali tersebut perlu dikaji lagi sebab bagian tubuh yang kembali adalah yang ada disaat kematian pemiliknya dan bagian badan asli yang pernah terpotong, bukan seluruh kuku dan rambut yang pernah dipotong selama hidupnya. Beliau membawakan perkataan Ibnu Hajar untuk menguatkan pendapatnya. Disebutkan dalam kitab tersebut:

 

قَوْلُهُ : ( إذْ يُرَدُّ إلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ ) فِيهِ نَظَرٌ ، لِأَنَّ الَّذِي يُرَدُّ إلَيْهِ مَا مَاتَ عَلَيْهِ لَا جَمِيعُ أَظْفَارِهِ الَّتِي قَلَّمَهَا فِي عُمُرِهِ ، وَلَا شَعْرِهِ كَذَلِكَ فَرَاجِعْهُ .

ا هـ .

ق ل . أَيْ لِأَنَّهَا لَوْ رُدَّتْ إلَيْهِ جَمِيعُهَا لَتَشَوَّهَتْ خِلْقَتُهُ مِنْ طُولِهَا .

وَعِبَارَةُ م د إذْ يُرَدُّ إلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ أَيْ الْأَصْلِيَّةُ فَقَطْ كَالْيَدِ الْمَقْطُوعَةِ بِخِلَافِ نَحْوِ الشَّعْرِ وَالظُّفْرِ ، فَإِنَّهُ يَعُودُ إلَيْهِ مُنْفَصِلًا عَنْ بَدَنِهِ لِتَبْكِيتِهِ أَيْ تَوْبِيخِهِ حَيْثُ أُمِرَ بِأَنْ لَا يُزِيلَهُ حَالَةَ الْجَنَابَةِ أَوْ نَحْوِهَا ا هـ .

وَقَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ : إنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَكُونُ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ ثُمَّ عِنْدَ دُخُولِ الْجَنَّةِ يَصِيرُونَ طِوَالًا . وَفِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ فِي صِفَةِ أَهْلِ الْجَنَّةِ : إنَّهُمْ عَلَى صُورَةِ آدَمَ وَطُولُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي عَرْضِ سَبْعَةِ أَذْرُعٍ أَبْنَاءُ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً وَإِنَّهُمْ جُرْدٌ مُرْدٌ .

 

Masalah ini pernah ditanyakan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan beliau jelaskan dalam Majmu’ Fataqaawa, intinya: setahu beliau tidak ada dalil syar’i yang menunjukkan makruhnya memotong rambut dan kuku bagi orang yang sedang junub, bahkan terdapat hadis shohih riwayat Bukhari-Muslim yang menegaskan bahwa (tubuh) seorang mukmin itu tidak najis. Dengan tambahan riwayat dari Shohih al-Hakim: ”baik dalam keadan hidup ataupun mati”. Demikian pula adanya hadis tentang perintah bagi yang haid untuk menyisir rambut pada waktu mandi, padahal sisiran bisa menyebabkan rontoknya rambut. Berikut petikannya:

 

فَأَجَابَ : قَدْ ثَبَتَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَدِيثِ حُذَيْفَةَ وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّهُ لَمَّا ذَكَرَ لَهُ الْجُنُبَ قَالَ : إنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ[3] . وَفِي صَحِيحِ الْحَاكِمِ : حَيًّا وَلَا مَيِّتًا . وَمَا أَعْلَمُ عَلَى كَرَاهِيَةِ إزَالَةِ شَعْرِ الْجُنُبِ وَظُفْرِهِ دَلِيلًا شَرْعِيًّا بَلْ قَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلَّذِي أَسْلَمَ : أَلْقِ عَنْك شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ [4] فَأَمَرَ الَّذِي أَسْلَمَ أَنْ يَغْتَسِلَ وَلَمْ يَأْمُرْهُ بِتَأْخِيرِ الِاخْتِتَانِ . وَإِزَالَةِ الشَّعْرِ عَنْ الِاغْتِسَالِ فَإِطْلَاقُ كَلَامِهِ يَقْتَضِي جَوَازَ الْأَمْرَيْنِ . وَكَذَلِكَ تُؤْمَرُ الْحَائِضُ بِالِامْتِشَاطِ فِي غُسْلِهَا مَعَ أَنَّ الِامْتِشَاطَ يَذْهَبُ بِبَعْضِ الشَّعْرِ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .

 

Dalam Fatwa ketua lajnah Fatwa ulama al-Azhar, Syaikh ’Atiyah Shaqr (Fatwa Mei 1997 al-Maktabah as-Syamilah) menyebutkan bahwa pernyataan yang melarang memotong kuku dan rambut saat dalam keadaan junub tidak berdasarkan dalil. Beliau membawakan penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas dan menambahkan:

(dengan hadis tersebut) kita ketahui bahwa hal demikian tidaklah dimakruhkan. Pendapat yang menyatakan makruh adalah pendapat yang la ashla lahu (tidak ada dasarnya). ’Atho—yaitu ’Atho bin Abi robah ra, seorang tabi’in senior—menyatakan:

 

وَقَالَ عَطَاءٌ يَحْتَجِمُ الْجُنُبُ وَيُقَلِّمُ أَظْفَارَهُ ، وَيَحْلِقُ رَأْسَهُ ، وَإِنْ لَمْ يَتَوَضَّأْ .

 

Seorang yang junub (diperbolehkan) melakukan hijamah (pengobatan dengan cara mengeluarkan darah kotor) dan memotong kuku dan menggunting rambutnya, walaupun ia belum berwudhu” (Shohih al-Bukhari 1/496 al-Maktabah al-Syamilah babal-Junubu yakhruju wayamsyi fis suq waghairihi)

Berdasarkan dalil ini maka tidak dimakruhkan untuk memotong rambut dan kuku saat janabah. Adapun hukum menimbun potongan kuku dan rontokan rambut dari sisir ada dalam bahasan lain (tidak termasuk dalam bahasan ini)”.


  • Inilah Sebabnya Mengapa Menuntut Ilmu Itu Penting !!! >>KLIK
  • Masih Suka Bingung saat Haid ??? Mau Ibadah Takut Salah. Supaya Lebih Jelas, YUK BACA...!!! >>KLIK
  • Biar Nggak Kaget, Cari Tahu Yuk…!!!Apa Saja Persiapan yang Harus Dilakukan Menjelang Bulan Ramadhan >>KLIK
  • Jangan Ngaku Taqwa, Sebelum Melaksanakan Kewajiban Yang Satu Ini...!!!>>BACA
  • Single Kok Bangga..!!! Coba baca yang satu ini :) >>KLIK

 Dalam Fath al-Bari Syarah Shohih al-Bukhari oleh Ibnu Rajab 2/54 terhadap perkataan ‘Atho di atas menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan la ba’sa (tidak mengapa) untuk mengeluarkan darah (hijamah) atau memotong kuku dan rambut saat junub. Ibnu Rajab al-Hanbali menyatakan: tidak ada khilaf tentang bolehnya ini di antara ashabina (ulama mazhab Hanbali) kecuali Abu al-Farj al-Syirozi yang memakruhkan untuk mengambil kuku dan rambut dari orang yang junub, dan menyebutkan hadis yang marfu’ riwayat al-Isma’ily dalam Musnad ‘Ali dengan Isnad yang dho’if jiddan dari ‘Ali :

 

عَن علي – مرفوعاً – : (( لا يقلمن أحد ظفراً ، ولا يقص شعراً ، إلا وَهوَ طاهر ، ومن اطلى وَهوَ جنب كانَ [ علته ] عليهِ )) ، وذكر كلاماً ، قيل لَهُ : لَم يا رسول الله ؟ قالَ : (( لأنه لا ينبغي أن يلقي الشعر إلا وَهوَ طاهر )) . وهذا منكر جداً ، بل الظاهر أنَّهُ موضوع . والله أعلم .

 

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa hadis tersebut adalah hadis yang Munkar jiddan bahkan secara eksplisit menunjukkan kualitasnya maudhu’ (palsu).

Kesimpulan bahasan di atas:

Tidak dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang shohih yang menjadi dasar hukum larangan bagi orang yang memotong kuku dan rambut bagi orang yang sedang junub khususnya perempuan yang haid. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah..

Pendapat tersebut bersumber dari pendapat Imam al-Ghozali dalam madzhab Syafi’i. Imam al-Ghozali sendiri tidak menyatakan larangan itu dengan kalimat yang tegas yang menunjukkan hukum haram. Beliau menggunakan lafadz: “la yanbaghi” yang artinya “tidak semestinya, tidak seharusnya atau tidak seyogyanya…”dst

Sementara itu tidak semua ulama madzhab Syafi’I sepakat dengan Imam al-Ghozali dalam masalah tersebut (sebagaimana disebutkan tentang khilaf itu dalam beberapa kitab mazhab Syafi’I, antara lain Nihayat al-Muhtaj di atas). Wallahu A’lam bi as-Showab....

 

Terima kasih sudah membaca artikel “ Potong Kuku Dan Rambut saat Haid dan Nifas ??? Ini Hukumnya ” Silahkan share agar bermanfaat bagi orang lain :)




Komentar Artikel "Potong Kuku Dan Rambut saat Haid dan Nifas ??? Ini Hukumnya "