Masih Suka Bingung saat Haid ??? Mau Ibadah Takut Salah. Supaya Lebih Jelas, YUK BACA...!!! - Alya Hijab

Masih Suka Bingung saat Haid ??? Mau Ibadah Takut Salah. Supaya Lebih Jelas, YUK BACA...!!!

1 tahun yang lalu      info menarik

Sahabat Alya,

Wanita yang masih dalam usia produktif, akan mengalami menstruasi atau haid setiap sebulan sekali. Selama masa itu, wanita tidak boleh menjalankan ibadah salat dan puasa. Bahkan ada beberapa pendapat ulama juga yang menyatakan tidak boleh membaca ayat suci al-Quran. Berdiam diri masjid untuk menuntut ilmu pun dilarang, khawatir darah haid tersebut tembus dan menetes ke lantai masjid.

Saat wanita haid, bukan berarti tidak bisa melakukan banyak hal yang berkaitan dengan ibadah.  Sangat rugi, jika waktu wanita yang sedang haid hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak manfaat, tidak mendapatkan pahala atau mengerjakan hal-hal yang bersifat tidak positif. Meski terlihat terbatas, karena tidak bisa melakukan ibadah secara umum, seperti berhaji, shalat, puasa, membaca Al Qur’an dengan Mushaf, berjima’ dan beberapa hal lain, masih ada beberapa hal yang bisa membuat wanita haid mendapatkan pahala.

Islam tidak membataskan wanita untuk berhenti beramal ketika didatangi haid dan nifas. Malahan wanita beruntung kerana diberi cuti tanpa rekod tapi dapat bonus pahala berganda walaupun tanpa melakukan ibadah solat, puasa dan tawaf.


 

  • Inilah Keistimewaan Hari Jumat Didalam Dunia Islam >>KLIK
  • Subhanallah....!!! Istimewanya Menjadi Seorang Wanita >>KLIK
  • Keutamaan Menjaga Lisan dan Manfaatnya >>KLIK
  • SUKA BERCANDA YA ? Bercandalah menurut hukum islam >>BACA
  • Ingin Dilancarkan Rizkinya...??? Inilah Amalan-amalan Yang Dapat Memperlancar Rizki >>BACA

 

Wanita haid masih bisa melakukan amalan ibadah, selain amalan yang dilarang dalam syariat, diantaranya;

Pertama, shalat

Seorang wanita yang sedang mendapatkan haid diharamkan untuk melakukan salat. Begitu juga mengqada` salat. Sebab seorang wanita yang sedang mendapat haid telah gugur kewajibannya untuk melakukan salat. Dalilnya adalah hadis berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ رضيَ اللهُ عَنْهَا: أنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ دَمَ الحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَإِذا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنِ الصَّلاةِ، فَإِذا كَانَ الآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي، رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابنُ حِبَّانَ وَالحَاكِمُ، وَاسْتَنْكَرَهُ أَبُو حَاتِمٍ

Dari Aisyah ra berkata, Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, Darah haid itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu, janganlah shalat. Bila sudah selesai, maka berwudhu’lah dan lakukan shalat.

Dari Aisyah ra. berkata, Di zaman Rasulullah SAW dahulu kami mendapat haid, lalu kami diperintahkan untuk mengqada` puasa dan tidak diperintah untuk mengqada` salat. .

Selain itu juga ada hadis lainnya:

Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda, Bila kamu mendapatkan haid maka tinggalkan salat.

Kedua, puasa

Wanita yang sedang mendapatkan haid dilarang menjalankan puasa dan untuk itu ia diwajibkannya untuk menggantikannya dihari yang lain.

وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رضيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: أَلَيْسَ إِذا حَاضَتِ المَرْأَةُ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ، مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abi Said Al-Khudhri ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Bukankah bila wanita mendapat hatdh, dia tidak boleh shalat dan puasa?

Ketiga, tawaf di ka’bah

Aisyah pernah mengalami haid ketika berhaji. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan kepadanya,

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.” (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

Keempat, menyentuh mushaf

Orang yang berhadats (hadats besar atau hadats kecil) tidak boleh menyentuh mushaf seluruhnya ataupun hanya sebagian. Inilah pendapat para ulama empat madzhab. Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala,

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)

Dalil lainnya adalah sabda Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Kelima, I’tikaf

Dalam masalah ini ada perselisihan pendapat di kalangan Ahli Ilmu, ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan.

Inilah adalah pendapat mayoritas ulama dari madzhab Maliki, Syafii, dan Hambali. Sementara madzhab Hanafi menyatakan bahwa i’tikaf wanita haid tidak sah, karena mereka mempersyaratkan orang yang I’tikaf harus dalam keadaan puasa di siang harinya. Sementara wanita haid, tidak boleh puasa.

Pendapat yang berbeda dalam hal ini adalah madzhab Zahiriyah.

Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat mayoritas ulama bahwa wanita haid tidak boleh melakukan I’tikaf. Dalilnya, firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُباً إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi…(QS. An-Nisa: 43).

Yang jelas selama wanita haid tersebut aman dari kemungkinan darahnya mengotori masjid, maka tidak apa-apa ia duduk di dalam masjid.

Keenam, hubungan intim

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.” (Al Majmu’, 2: 359) Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ Al Fatawa, 21: 624)

Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

“Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haid.” (QS. Al Baqarah: 222). Imam Nawawi berkata, “Mahidh dalam ayat bisa bermakna darah haid, ada pula yang mengatakan waktu haid dan juga ada yang berkata tempat keluarnya haid yaitu kemaluan. Dan menurut ulama Syafi’iyah, maksud mahidh adalah darah haid.” (Al Majmu’, 2: 343)

Dalam hadits disebutkan,

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-

“Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al Muhamili dalam Al Majmu’ (2: 359) menyebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus dalam dosa besar.”

Hubungan seks yang dibolehkan dengan wanita haid adalah bercumbu selama tidak melakukan jima’ (senggama) di kemaluan. Dalam hadits disebutkan,

اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ

“Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haid) selain jima’ (di kemaluan).” (HR. Muslim no. 302)

Dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaih disebutkan,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَمْلِكُ إِرْبَهُ

Dari 'Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”   (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haid atau selain kemaluannya.


  •  Mau tau 10 Manfaat Hijab Bagi Kesehatan Wanita ??? Baca di sini >> KLIK
  • Wajib Coba !!! inilah tips Awet Muda Alami Ala Islam. >> KLIK 
  • Diet Sehat Ala Islam ??? Puasa Sunah Senin Kamis Jawabannya… >> BACA 
  • Cari Tau Yukk.... !!! 20 Fakta Unik & Menarik Tentang Hijab >> BACA 
  • Potong Kuku Dan Rambut saat Haid dan Nifas ??? Ini Hukumnya >>BACA 

 

Dan berikut ini adalah amalan-aman yang bisa dilakukan wanita saat sedang  menstruasi atau haid :

1. Berinteraksi dengan Qur’an dengan cara mengulang hafalan, mendengar bacaan Qur’an, dan mentadaburinya

Hal ini akan sangat berguna untuk para wanita yang sedang menghafal Al Qur’an, atau seorang santriwati yang sedang pelajari masalah Al Qur’an Hadist. Membaca Al Qur’an ini pada zaman sekarang bisa digantikan lembaran mushaf Al Qur annya dengan Ponsel yang ada konten Al Qur’annya.

Cara membaca Qur’an tanpa menyentuhnya salah satunya adalah dengan cara muroja’ah hafalan Qur’an. Mintalah suami untuk memeriksa hafalan anda. Selama sepekan waktu haid bisa dimaksimalkan dengan mengulang hafalan-hafalan qur’an. Selain itu, tidak ada larangan untuk mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Hafalan bisa bertambah, dan bacaan pun bisa diperbaiki. Selain itu tidak ada larangan juga untuk mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an.

2. Berdzikir

Dengan membaca tasbih, Tahlil dan tahmid amat di anjurkan untuk para wanita baik sedang haid atau tidak. Berdzikir dan berdoa sebanyak-banyaknya, juga bisa membaca ayat Al-Qur’an dengan niat untuk berdzikir atau berdoa seperti membaca basmalah, ayat kursi, falaq binNas(Al-falaq, An-Nas dan Al-Ikhlas), dan ayat lain yang tujuan membacanya tidak lain hanyalah untuk dzikir dan berdoa. Karena melakukan ini semua tidak ada ketentuan kesuciannya.

3. Berdoa

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda bahwa berdo’a adalah ibadah (Abu Dawud). Berdoalah kapanpun saat ada kesempatan, bukan hanya mendoakan diri sendiri, bisa juga mendoakan orang lain saat kita melihat seorang bapak tua yang kerepotan membawa gerobak atau seorang anak yang harus membantu orang tuanya bekerja.

4. Beristhighfar dan bertaubat

Wanita yang ingin bertaubat tidak harus menunggu sampai bersih haidnya. Untuk itu bisa dilakukan kapan saja.

5. Membaca sholawat nabi

Seperti sholawat nariyah, sholawat nur buwat, sholawat badar dan lain sebagainya. Meskipun banyak kalangan yang menganggap sholawat itu bid’ah, kembali pada diri masing-masing. Yang masih menginginkan syafaat nabi kelak di yaumil akhir, maka perbanyaklah membaca sholawat.

6. Membaca atau mengamalkan Asmaul Husna

Seperti yang telah kita ketahui bahwa Asmaul Husna adalah nama-nama lain allah yang mulia. Dengan membaca dan mengamalkan Asmaul Husna dalam keseharian kita, insyaallah akan ada banyak pahala dan kemudahan yang kita peroleh nantinya.

7. Mendengarkan tausyiah

Mendengarkan tausyiah atau ceramah agama, baik dengan cara menghadiri pengajian-pengajian ataupun mendengarkan tausyiah lewat media televisi, radio dan lain sebagainya.

Meski pemberi tausiyah membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an untuk yang mendengarkan, meski sedang haid tidak mengapa untuknya. Namun jika dilakukan dimasjid, tidak boleh masuk dalam ruangan tempat sholat.

8. Melayani suami

Selama menjalani fitrahnya mengalami haid, bukan berarti wanita absen dari membahagiakan suami. Seorang istri tetap harus siap melayani suaminya, khususnya kebutuhan biologisnya. Meski diharamkan melakukan persetubuhan (senggama), suami dibolehkan bersenang-senang dengan istri pada bagian pusar ke atas atau selain kemaluan.Haram menolak ajakan suami, kecuali ada hal-hal yang mengakibatkan risiko jika berhubungan badan. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,“Jika suami mengajak istrinya ke ranjangnya (untuk berjima’) kalau istri tidak mau melayaninya sehingga ia marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga subuh.” (Riwayat Bukhari Muslim)Bukankah taat pada suami selama tidak bermaksiat pada Allah serta mengakui hak suami atasnya memiliki pahala yang besar laksana pahala jihad? Tak hanya itu, wanita shalihah selalu menyenangkan bagi suaminya. Seperti sabda Nabi

Tidakkah mau aku khabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dijadikan bekal seseorang? Wanita yang baik (shalihah), jika dilihat suami ia menyenangkan, jika diperintah suami ia mentaatinya, dan jika (suami) meninggalkannya ia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Riwayat Abu Dawud dan An-Nasa’i).

9. Menambah pengetahuan agama

Dapat dilakukan dengan cara bertholabul ‘ilmi seperti menghadiri majlis ta’lim, sharing tentang pengetahuan agama kepada orang-orang yang berilmu dan lain sebagainya.

Sebuah hadist mengatakan “mencari ilmu merupakan suatu kewajiban bagi seluruh umat muslim.”

Dengan demikian, memperdalam ilmu pengetahuan kita mengenai Islam juga merupakan salah satu bentuk ibadah yang bisa kita lakukan pada saat sedang haid.

10. Bergaul dengan Orang-Orang Shalihah yang dapat Menjaga Semangatnya

Mendengarkan ceramah, bacaan Al-Quran atau semacamnya. Bahkan lebih baik jika mengulang hafalan Al-Qur’an. Hal ini akan mempertemukan kamu dengan banyak orang yang shalihah, yang bersama-sama mengkaji bacaan Al-Qur’an dan mendengarkan ceramah.

11. Ihram

“Menjadi kewajiban bagi manusia terhadap Allah, mengerjakan haji di Baitullah, yakni bagi orang-orang yang mampu mengunjunginya.” (Ali Imran: 97) Namun terkadang wanita terhalang haid, sehingga ada beberapa hal yang tak boleh dikerjakan seperti melakukan thawaf dan dua rakaat shalat thawaf. Selain itu semua manasik haji boleh dikerjakan oleh wanita haid dan nifas. Jadi wanita yang dalam keadaan haid dan nifas boleh melakukan ihram. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits Aisyah yang meriwayatkan kasus Asma’ binti Umais. Asma' melahirkan di Syajarah. Lalu Rasulullah menyuruhnya mandi dan sesudah itu langsung ihram.

12. Memberi makan pada orang yang berpuasa

Menyiapkan atau memberi makanan untuk berbuka puasa  dan sahur pada saat bulan ramadhan atau puasa -puasa sunnah.

13. Tersenyum

Pepatah yang mengatakan bahwa senyum adalah ibadah bukan hanya sekedar basa-basi, karena tersenyum juga merupakan salah satu hal yang dicontohkan rasul. Sehingga kita turut juga melakukan sunnah rasul saat tersenyum.

14. Memberi Shodaqoh

Wanita yang sedang haid diperbolehkan untuk melakukan kebaikan seperti ini, malah dianjurkan. Berbagi pada sesama yang membutuhkan adalah yang utama, yang dapat mendulang banyak pahala.

15. Menyampaikan atau berdakwah walau hanya satu ayat

Menyampaikan suatu kebaikan walau hanya satu ayat termasuk kedalam perbuatan terpuji. Maka sampaikanlah apa yang kamu ketahui atau berbagi ilmu kepada orang lain dengan mengamalkan apa yang terkandung dari dalam ayat Al-Qur’an maupun Hadits.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Meski bukan sebuah ritual, menyeru kepada Allah atau berdakwah di jalan Allah merupakan salah satu ibadah yang bisa dilakukan wanita yang sedang haid.

16. Membaca Al-Ma’tsurat (di Waktu Pagi dan Sore)

Boleh menyentuh ponsel atau tablet yang ada konten Al-Qurannya. Karena benda semacam ini tidak dihukumi Al-Quran. Sehingga, bagi wanita haid yang ingin tetap menjaga rutinitas membaca Al-Quran, sementara dia tidak memiliki hafalan, bisa menggunakan bantuan alat, komputer, atau tablet atau semacamnya.

17. Mengucapkan Salam

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa salam bersabda:

Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim. (HR. Muslim)

18. Menolong sesama yang sedang kesulitan atau kesusahan.

Tolong menolong tak harus dengan uang, dana atau barang. Bisa berupa tenaga, pikiran, jalan keluar dan gotong royong dalam kebaikan. Semisal menyiapkan makanan untuk pengajian, kerja bakti dan lain sebagainya.

19. Bersilaturahmi dengan kerabat dan saudara atau teman.

Selain memperpanjang usia, membukakan pintu rezeki, bersilaturahmi ini akan memberikan efek positif pada wanita yang tengah haid. Selain bahagia bertemu dengan saudara atau kerabat, juga akan menambah pengetahuan atau pengalaman saat bersilaturahmi.

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir haruslah mempererat tali silaturahmi.” (Al-Bukhari)


 

  • Sulit Lepas dari Jeratan Dendam..??? Coba Baca yang Satu Ini. >>KLIK
  • Inilah Sebabnya Mengapa Menuntut Ilmu Itu Penting !!! >>KLIK
  • Single Kok Bangga..!!! Coba baca yang satu ini :) >>KLIK
  • Jangan Ngaku Taqwa, Sebelum Melaksanakan Kewajiban Yang Satu Ini...!!!>>BACA
  • Biar Nggak Kaget, Cari Tahu Yuk…!!! Apa Saja Persiapan yang Harus Dilakukan Menjelang Bulan Ramadhan >> KLIK

 

Sahabat Alya,

Selama kita masih diberikan nikmat sehat serta waktu yang lapang, marilah kita selalu menambah tabungan amal yang akan kita bawa nantinya diakhirat. karna kita tidak pernah tau, kapan Allah memerintahkan malaikatnya untuk menjemput kita untuk menghadap-Nya. walaupun sedang haid, kita masih tetap bisa mendulang banyak pahala. Untuk itu janganlah bermalas-malasan untuk melakukan berbagai macam kebaikan.

Terima kasih sudah membaca artikel “ Masih Suka Bingung saat Haid ??? Mau Ibadah Takut Salah. Supaya Lebih Jelas, YUK BACA...!!! ” Silahkan share agar bermanfaat bagi orang lain :)




Komentar Artikel "Masih Suka Bingung saat Haid ??? Mau Ibadah Takut Salah. Supaya Lebih Jelas, YUK BACA...!!!"